SOFIFI, iT- Berawal dari sebuah video viral di Media Sosial (Medsos) warga Desa Salube, Kecamatan Loloda Kepulauan, Kabupaten Halmahera Utara (Halut), Provinsi Maluku Utara (Malut) yang mengantarkan jenazah ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang berada di seberang suangai pada 1 Desember 2025 lalu.
Jembatan daruat yang dibanguan swadaya oleh masyarakat setempat dari batang pohon kelapa menjadi satu-satunya penghubung ke tempat pemakaman umum itu hanyut terbawa arus. Akhirnya, meninggalkan akses yang terputus dan kecemasan yang nyata terhadap masyarakt. Beberapa waktu setelahnya, sebuah peristiwa menyentuh hati publik terjadi. Warga terpaksa turun langsung ke sungai, bergantian menggotong jenazah menembus derasnya air demi mengantar ke peristirahatan terakhir. Video momen tersebut viral dan menggugah perhatian luas.
Merespons situasi itu, Kapolda Maluku Utara Irjen Polisi Waris Agono, mengeluarkan perintah tegas agar jajaran segera turun tangan membangun jembatan permanen yang aman bagi masyarakat. Atas arahan tersebut, personel Satuan Brimob dari Polda Maluku Utara langsung diterjunkan ke lokasi.
Kabid Humas Polda Maluku Utara, Kombes Polisi Wahyu Istanto Bram menjelaskan, pembangunan ini bukan sekadar respons terhadap viralnya video, tetapi bentuk komitmen menghadirkan solusi nyata.
“Awalnya masyarakat hanya memiliki jembatan kayu hasil swadaya. Ketika hanyut diterjang banjir, akses benar-benar terputus. Perintah bapak Kapolda jelas, harus dibangun jembatan permanen yang kokoh agar kejadian serupa tidak terulang,” ucapnya, Senin (2/3).
Kata dia, perintah itu Polda menurunkan sebanyak 17 personel Satbrimob bersama warga Salube bergotong royong membangun jembatan beton sepanjang kurang lebih 12 meter dengan lebar 3 meter. Material batu dan pasir dikumpulkan dari sekitar lokasi.
“Tang-tiang di cor dengan konstruksi yang dirancang tahan terhadap arus sungai saat musim hujan dan banjir,” tuturnya.
Juru bicara Polda Maluku Utara itu menyatakan, kini jembatan Merah Putih telah berdiri kokoh dan resmi dapat dimanfaatkan masyarakat. Anak-anak sekolah tak lagi was-was saat musim hujan, para petani lebih mudah membawa hasil kebun dan keluarga yang berduka tak perlu mempertaruhkan keselamatan.
“Jembatan ini adalah simbol kepedulian dan gotong royong. Bukan hanya beton yang berdiri, tetapi juga harapan dan rasa aman bagi warga,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, dari jembatan kayu yang hanyut terbawa banjir, kini berdiri jembatan permanen yang menghubungkan bukan hanya dua sisi sungai, tetapi juga duka masa lalu dengan masa depan yang lebih aman bagi Desa Salube.
“Polda Maluku Utara berharap, selesainya pembangunan jembatan ini menjadi titik awal kemajuan yang lebih luas bagi Desa Salube. Karena di atas jembatan inilah, masyarakat melangkah menuju masa depan yang lebih aman dan sejahtera,” pungkas menutup.(red).
















