TERNATE, iT- Kepolisian Resor (Polres) Ternate, menjadi salah satu lokasi pelaksanaan penelitian pengembangan kurikulum pendidikan Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) berbasis kompetensi untuk mewujudkan lulusan sarjana terapan ilmu Kepolisian yang memiliki kompetensi sebagai perwira lini pertama.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim penelitian Akpol di ruang Tactical Multimedia Command Center (TMCC) Polres Ternate pada Selasa (15/9).
Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data, informasi, serta masukan dari personel di lapangan sebagai bahan evaluasi dan pengembangan kurikulum pendidikan Taruna Akpol agar semakin relevan dengan kebutuhan pelaksanaan tugas kepolisian di berbagai wilayah Indonesia.
Kegiatan dipimpin oleh Ketua Tim Supervisi Akpol Dosen Kepolisian Utama TK II Brigjen Polisi Suharjimantoro, Wakil Ketua Tim Supervisi Akpol Dosen Kepolisian Utama Madya Kombes Polisi Nugraha Aristawarman, Kapolres Ternate AKBP Anita Ratna Yulianto, Wakapolres Ternate Kompol Iksan Prananto, Dosen Universitas Diponegoro Triyono, serta sejumlah pejabat dan personel Polres Ternate dan Polresta Tidore.
Kapolres Ternate menyampaikan, apresiasi dan penghargaan kepada tim penelitian Akademi Kepolisian yang telah memilih Polres Ternate sebagai salah satu lokasi penelitian.
“Atas nama pimpinan dan seluruh personel Polres Ternate, saya menyampaikan selamat datang dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Ketua beserta Wakil dan seluruh tim penelitian Akpol,” ucapnya dalam sambutan.
Anita menilai kegiatan penelitian tersebut memiliki arti penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan pembentukan kompetensi calon perwira Polri.
Menurutnya, pengembangan kurikulum berbasis kompetensi diharapkan mampu menyesuaikan proses pendidikan dengan kebutuhan pelaksanaan tugas kepolisian di lapangan, khususnya dalam menghadapi dinamika masyarakat yang terus berkembang.
“Perwira lini pertama memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi salah satu unsur terdepan dalam mengimplementasikan kebijakan pimpinan, memimpin anggota, memberikan pelayanan kepada masyarakat, serta menghadapi berbagai dinamika dan tantangan tugas kepolisian,” katanya.
Mantan Kasubdit PPA Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Maluki Utara itu juga mengharapkan para responden dapat memberikan informasi, penilaian, dan masukan secara objektif sesuai dengan kondisi nyata di lapangan, terutama terkait pelaksanaan tugas dan kinerja para perwira remaja di jajaran Polda Maluku Utara, khususnya Polres Ternate dan Polresta Tidore.
Sementara itu, Ketua Tim Supervisi Akpol, Brigjen Pol Suharjimantoro menegaskan, penelitian tersebut bukan sekadar kegiatan formalitas, melainkan bagian dari upaya Akademi Kepolisian bersama akademisi dan berbagai pihak untuk mengevaluasi serta mengembangkan sistem pendidikan Polri.
“Kami datang bukan sekadar untuk melaksanakan kegiatan formalitas, tetapi membawa kepentingan institusi Polri untuk bersama-sama melihat dan mengkaji bagaimana pendidikan di Akademi Kepolisian dapat terus dikembangkan,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, data dan informasi yang diperoleh dari lapangan akan menjadi bahan penting bagi Akademi Kepolisian dalam melakukan evaluasi terhadap proses pendidikan yang telah dilaksanakan.
Untuk itu, Jenderal bintang satu itu meminta para responden memberikan penilaian secara jujur, terbuka, konkret, objektif, dan valid, termasuk menyampaikan berbagai kekurangan maupun permasalahan yang ditemukan dalam pelaksanaan tugas.
“Kalau memang baik, sampaikan baik. Kalau ada kekurangan, sampaikan kekurangannya. Kalau ada permasalahan, sampaikan permasalahannya. Karena yang kami butuhkan adalah data yang konkret, objektif, dan valid,” tegasnya.
Kata dia, karakteristik potensi ancaman dan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di setiap wilayah Indonesia memiliki perbedaan, baik dari aspek geografis, sosial, budaya, ekonomi maupun karakteristik masyarakat.
Oleh karena itu, lanjutnya, pendidikan di Akademi Kepolisian dituntut mampu membekali para taruna dengan kompetensi yang dapat diterapkan ketika melaksanakan tugas di berbagai wilayah dengan karakteristik dan tantangan yang berbeda.
“Seorang lulusan Akpol tidak boleh hanya mampu bekerja berdasarkan teori yang diperoleh di lembaga pendidikan. Ia harus mampu menerapkan kompetensinya ketika berhadapan dengan berbagai macam karakteristik masyarakat dan berbagai macam bentuk permasalahan di lapangan,” katanya.
Suharjimantoro menambahkan, berbagai masukan yang diperoleh dari lapangan, termasuk hal-hal yang dianggap kecil, dapat menjadi bahan penting untuk menemukan aspek-aspek yang perlu diperbaiki dalam kurikulum, metode pembelajaran, pola pendidikan, maupun kompetensi yang diberikan kepada para taruna.
“Penelitian tersebut diharapkan dapat memastikan lulusan Akpol memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan sebagai perwira lini pertama sekaligus memenuhi tuntutan sebagai lulusan sarjana terapan ilmu kepolisian,” pungkasnya.(red).
















