Daerah  

Dorong Ekonomi Masyarakat Transmigrasi, Tim Ekspedisi Patriot Fasilitasi Pembentukan Koperasi Trans Waleh

Tim Ekspedisi Patriot dan pemerintah setempat serta masyarakat saat melakukan foto bersama. (Istimewa)
banner 120x600

WEDA, iT – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) menggelar diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD) merintis pembentukan Koperasi Trans Waleh, Sabtu (5/9).

Kegiatan ini bertujuan memperkuat kelembagaan ekonomi masyarakat sekaligus mengoptimalkan potensi lokal di kawasan transmigrasi Waleh, Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.


FGD ini menghadirkan Dinas Koperasi dan UKM sebagai narasumber, serta dihadiri Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Pertanian, Camat Weda Utara, Pemerintah Desa Waleh, dan masyarakat dari SP1, SP2, serta SP3.

Turut hadir pula mitra dari PT Bakti Pertiwi Nusantara dan PT Mining Abadi Indonesia. Pertemuan ini menjadi wadah untuk menyusun konsep, tata kelola, dan arah pengembangan koperasi yang sesuai dengan kebutuhan warga setempat.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Erna M. Yamin Samad, menjelaskan prinsip dasar perkoperasian, mulai dari kelembagaan, keanggotaan, permodalan, hingga peluang usaha.

Dirinya juga menegaskan koperasi tidak boleh sekadar formalitas, melainkan harus menjadi wadah ekonomi nyata yang menghubungkan produksi, pengolahan, pemasaran dan akses pasar bagi masyarakat.

“Tim Ekspedisi Patriot mendorong koperasi ini menjadi penggerak ekonomi berbasis potensi lokal, terutama di sektor pertanian dan komoditas unggulan kawasan Trans Waleh. Dengan adanya koperasi, hasil produksi warga dapat dikelola secara lebih rapi, bernilai tambah tinggi dan akhirnya meningkatkan kesejahteraan anggota maupun masyarakat luas,” ungkapnya.

Perwakilan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Dinas Pertanian turut memperkuat diskusi, menyoroti keterkaitan pembangunan kawasan transmigrasi dengan pengembangan ekonomi yang produktif dan mandiri.

Sementara itu, Camat Weda Utara dan Pemerintah Desa Waleh menyampaikan kondisi nyata serta kebutuhan mendesak warga di lapangan.

Warga dari SP1, SP2, dan SP3 juga diberi kesempatan menyampaikan aspirasi dan harapan mereka. Partisipasi aktif masyarakat ini penting agar koperasi yang dibentuk benar-benar lahir dari kebutuhan bersama, bukan sekadar program dari pihak luar.

“Koperasi harus dibangun berdasarkan kebutuhan masyarakat dan potensi yang ada di kawasan. Karena itu, proses pembentukannya harus melibatkan masyarakat sejak awal agar nantinya memiliki rasa kepemilikan dan mampu berkembang secara berkelanjutan,” kata Alvaida dari Tim Ekspedisi Patriot.

Diketahui, peserta FGD juga membahas perlunya sinergi lintas sektor pemerintah kecamatan, desa, perangkat daerah, masyarakat, Tim Ekspedisi Patriot dan perusahaan tambang di sekitar kawasan untuk bersama-sama menyiapkan kelembagaan, memetakan potensi usaha, meningkatkan kemampuan anggota, serta menyusun rencana bisnis koperasi.

Diharapkan, Koperasi Trans Waleh kelak menjadi fondasi ekonomi masyarakat kawasan transmigrasi, khususnya SP1, SP2, dan SP3. Koperasi ini diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi mandiri yang mampu meningkatkan posisi tawar warga, memperkuat rantai pasok komoditas lokal, serta membuka peluang usaha dan investasi di kawasan tersebut. (red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *