TERNATE, iT – Memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 yang bertepatan dengan momentum Hari Pers Sedunia, sejumlah organisasi pers di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara menyuarakan tujuh tuntutan di depan kantor Wali Kota Ternate, pada Senin (4/5).
Solidaritas pers tersebut diantaranya, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Maluku Utara, Pers Liputan Kota (Pelita) Kota Ternate, Pers Liputan Hukum dan Kriminal (Hukrim) Maluku Utara, dan Pers Mahasiswa (Persma).
Tujuh tuntutan tersebut, antara lain;
- Menghentikan praktik pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak dan memastikan perlindungan hukum bagi pekerja.
- Mewujudkan upah layak dan jaminan sosial yang merata.
- Menghentikan kekerasan serta kriminalisasi terhadap jurnalis dan aktivis.
- Menjamin kebebasan pers dan hak atas informasi tanpa intervensi.
- Menolak eksploitasi sumber daya alam yang merusak lingkungan dan merugikan masyarakat.
- Mereka menuntut kebijakan publik yang berpihak pada rakyat, transparan, dan berkeadilan.
- Menghentikan praktik swasensor yang dinilai mengancam independensi pers.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate, Yunita Kaunar, menegaskan bahwa dua momentum tersebut menjadi pengingat penting bahwa perjuangan buruh dan jurnalis tidak bisa dipisahkan dalam menjaga demokrasi di Indonesia.
“Tidak ada demokrasi tanpa kebebasan pers. Dalam momentum Hari Buruh dan Hari Pers sedunia ini, kami mengajak semua pihak untuk bersatu melawan ketidakadilan dan memperjuangkan hak-hak pekerja, termasuk jurnalis,” tegasnya.
“Kami menilai bahwa Hari Buruh bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum perlawanan terhadap ketidakadilan struktural yang masih terjadi. Jurnalis sebagai bagian dari kelas pekerja juga menghadapi berbagai persoalan, mulai dari upah yang tidak layak, status kerja yang tidak pasti, hingga intervensi dalam kerja-kerja jurnalistik,” tambahnya.
Yunita mengakui, hingga saat ini kondisi di lapangan masih jauh dari harapan. Makanya, perjuangan kolektif harus terus diperkuat.
“Solidaritas adalah kekuatan kita. Perjuangan ini tidak berhenti sampai di sini. Suara-suara ini akan terus digabungkan hingga mencapai perubahan yang lebih adil,” tandasnya. (red).
















