TERNATE, iT- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate jadikan City Sanitation Summit (CSS) XXIII sebagai momentum untuk melakukan promosi tata cara mengolah sampah sesuai arahan dari Kementrian.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (Kadis LH) Kota Ternate, Muhammad Syafei menjelaskan, pihaknya terus berusaha dan berupaya agar sampah di Kota Ternate bisa berkurang dari sumber. “Jadi pengelolaan sampah sekarang itu tidak lebih ke hilir, tapi mulai dari hulu, tengah itu sudah harus berkurang sampah,” jelasnya kepada awak media, Sabtu (30/8).
“Jadi Bank Indonesia (BI) sebagai salah satu contoh kantor. Kantor salah satu sumber sampah adalah kantor. BI yang bisa mengolah sampahnya dengan baik,” sambungnya.
Selain BI, lanjutnya, ada juga Bakso Lapangan Tembak dari sisi dunia usaha yang sudah mengolah sampahnya, khususnya sampah organik. “Sehingga, diharapkan mampu bisa menjadi contoh dunia usaha dalam hal ini lebih spesifikasi ke restoran yang bisa mengolah sampah, sehingga mampu mengurangi beban kota,” tuturnya.
Kata dia, untuk kantong plastik belanja itu ada di tujuh toko moderen seperti Indo Mart, Hepymart dan lain-lain yang ada di Kota Ternate.
“Kita berharap toko-toko moderen besar dulu bisa menjadi contoh untuk mengurangi, bisa kantong belanja yang sekali pakai,” ucapnya.
Menurut Syafei, toko-toko moderen besar sudah berkomitmen, tapi memang ada sedikit kendala. “Mereka sudah ada stok, jadi ada komitmen menghabiskan itu kemudian nanti kembali sesuai rencana awal,” katanya.
Ia menyatakan, selain Bank Indonesia dan Bakso Lapangan Tembak, masyarakat terutama nanti lewat bank sampah di Kelurahan-kelurahan. Kemudian, kantor juga semua bisa ikut contoh seperti Bank Indonesia. “Begitu juga dunia usaha bisa ikut contoh Bakso Lapangan Tembak. Kemudian pasar. Pasar ini agak unik, karena banyak sekali kepentingan di dalam ini perlu perlakuan khusus,” tambahnya.
Mantan Direktur PDAM Ake Gaale Ternate itu menambahkan, demikian juga dunia usaha yang lain atau toko-toko kecil nanti mengikuti yang besar yang sudah mendahului. Tapi memang metode atau pendekatan yang mungkin berbeda tergantung sasarannya. “Momentun CSS ini kita memanfatkan oleh pemerintah kota untuk mengajak kota-kota dan kabupaten lain yang kebutulan datang sebagai peserta di CSS ini sama-sama berkomitmen mulai mengolah sampahnya sesuai arahan dari Kementrian yaitu kita tidak kumpul, angkut dan buang,” ujarnya.
“Tapi kita lakukan upaya-upaya pengurangan melalui 3R reduce, reuse dan recycle (mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang) itu. Sebagai contoh hari ini kita bisa lihat di kantor Bank Indonesia,” sambung mengakhiri. (red).
















