TERNATE, iT- Tim Satuan Tugas (Satgas) pengendalian harga beras dari Bareskrim Polri dan Badan Pangan Nasional (Bapanas), melakukan pengecekan beras di sejumlah ritel tradisional maupun modern di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara (Malut) untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan beras diwilayah Malut tetap stabil dan terjual seuai harga eceran tertinggi (HET).
Pengecekan ini juga, dilakukan di beberapa pasar tradisional hingga gudang beras yang didampingi tim Subdit I Industri Perdagangan (Indagsi) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Maluku Utara serta instansi terkait lainnya.
Sebelum ke pasar modern hingga tradisional, tim lebih dulu melakukan pengecekan stok dan harga beras di gudang Firma Agung, yang terletak di Kelurahan Ubo-Ubo, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, untuk memastikan beras disalurkan sesuai HET.
Dalam pengecekan yang dilakukan, tim Satgas menemukan adanya peningkatan harga di Distributor yang disebabkan, karena biaya ekspedisi atau bongkar muat yang cukup tinggi saat di pelabuhan. “Rata-rata beras premium dengan harga HET, yakni Rp15.800,00 perkilo. Karena biaya ekspedisi di pelabuhan hingga ke gudang memang mahal, sehingga dijual Rp16 ribu per kilo,” ungkap Kepala Gudang Firma Agung, Haris Wijaya di hadapan tim Satgas.
Haris menyatakan, harga satu kontainer di pelabuhan Ternate senilai Rp4,8 juta, sementara harga sewa untuk satu kontainer senilai Rp950 ribu. “Belum juga biaya operasional lainnya, hingga masuk ke gudang. Jadi kami jual juga sesuai dengan harga HET. Yang pasti stok beras saat ini masih aman,” tuturnya.
Sementara, pantauan dilapangan harga beras premium di Muara Mart/Muara Mall Ternate, terlihat bervariasi, yakni dari harga Rp172 ribu per 10 kilo, hingga Rp178 ribu per 10 kilo. Begitu juga di pasar tradisional, terlihat Rp17 ribu per kilo hingga Rp18 ribu per kilo.
Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Maluku Utara yang juga Koordinator Satgas Pengendalian Harga Beras Wilayah Hukum Polda Maluku Utara, Kombes Pol. Edy Wahyu Susilo melalui Kasubdit I Indagsi, Kompol Said Aslam mengatakan, dari hasil pengecekan harga beras masih stabil untuk di Maluku Utara. “Harganya masih stabil, cuman ada beberapa keluhan seperti di pelabuhan, karena harga kontainer dan lain-lain yang relatif sangat tinggi,” ucapnya.
Kata dia, dengan keluhan biaya bongkar muat di pelabuhan yang cukup tinggi dan dapat berpengaruh pada HET. Lanjutnya, maka temuan ini akan dikoordinasikan dengan instansi terkait, supaya tidak berdampak pada kenaikan harga beras. “Yang jelas, Satgas ini tergabung dengan instansi lainnya. Sehingga setiap temuan-temuan akan dikoordinasikan agar bisa mendapat jalan keluar,” jelasnya.
Mantan Wakapolres Halmahera Tengah (Halteng) itu menambahkan, Satgas pengendalian harga beras yang baru dibentuk ini, akan melakukan berbagai upaya-upaya dengan memberikan peringatan ke distributor dengan jangka waktu yang ditentukan sebelum ambil langkah tegas seperti pencabutan izin usaha. (red).
















