Opini  

STEM vs Sosial Humaniora: Dua Kutub, Satu Masa Depan

Alkadri Ajwan, S.Pd.,M.Hum, Pengurus IKA-PMII Kota Ternate, (istimewa)
banner 120x600

Perdebatan mengenai STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dan Sosial Humaniora selalu hadir dalam diskusi pendidikan dan dunia kerja. STEM dipandang sebagai simbol kemajuan, inovasi, dan daya saing global. Sosial Humaniora sering diasosiasikan dengan refleksi, nilai, budaya, dan kemanusiaan.

Keduanya kerap ditempatkan dalam posisi yang berseberangan seolah-olah kita harus memilih satu dan meninggalkan yang lain. Namun dalam pandangan saya, STEM dan Sosial Humaniora bukanlah dua kubu yang harus dipertentangkan, melainkan dua kutub yang justru membentuk satu masa depan yang sama.

Narasi keunggulan STEM menguat seiring perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan otomatisasi industri. Negara-negara seperti Amerika Serikat dan Tiongkok menunjukkan bagaimana investasi besar dalam riset sains dan teknologi mampu mendorong pertumbuhan ekonomi serta pengaruh geopolitik. Perusahaan seperti Google dan Microsoft menjadi contoh nyata bahwa penguasaan teknologi dapat mengubah lanskap global.

Di tengah arus tersebut, wajar jika banyak negara termasuk Indonesia berlomba memperkuat pendidikan STEM. Kurikulum diperbarui, program beasiswa diperluas, dan kampanye literasi digital digencarkan. Pesan yang disampaikan kepada generasi muda cukup jelas: masa depan ada pada teknologi. Namun, pertanyaannya, apakah teknologi saja cukup untuk membangun peradaban yang adil dan berkelanjutan?.

Di sinilah Sosial Humaniora memainkan peran fundamental. Bidang ini mencakup disiplin seperti sosiologi, antropologi, filsafat, sejarah, hukum, sastra, dan ilmu politik. Jika STEM menjawab pertanyaan “bagaimana sesuatu bekerja?”, maka Sosial Humaniora bertanya “untuk siapa?” dan “dengan konsekuensi apa?”. Tanpa pertanyaan-pertanyaan ini, teknologi berisiko menjadi alat yang kehilangan arah moral.

Sejarah menunjukkan bahwa sains dan humaniora tidak pernah benar-benar terpisah. Albert Einstein bukan hanya ilmuwan fisika, tetapi juga pemikir yang aktif menyuarakan isu kemanusiaan dan perdamaian. Penemuan-penemuan ilmiah besar lahir dalam konteks budaya, politik, dan filosofi zamannya. Artinya, sains selalu berada dalam kerangka sosial yang lebih luas.

Namun dalam praktik pendidikan modern, kita sering memisahkan keduanya secara kaku. Sejak sekolah menengah, siswa dihadapkan pada pilihan jalur IPA atau IPS. Seolah-olah minat dan potensi manusia dapat dikotakkan secara permanen. Konsekuensinya, lahirlah generasi yang sangat terampil secara teknis tetapi kurang peka secara sosial, atau sebaliknya, kritis secara teori tetapi kurang memahami teknologi yang membentuk dunia mereka.

Dikotomi ini semakin terasa dalam dunia kerja. Lulusan STEM cenderung memiliki peluang kerja lebih cepat dan gaji awal lebih tinggi, terutama di sektor teknologi dan industri digital. Sementara itu, lulusan Sosial Humaniora sering menghadapi stigma sebagai “kurang prospektif”. Padahal, banyak persoalan dunia modern yang justru memerlukan pendekatan sosial dan humanistik.
Ambil contoh kecerdasan buatan.

Pengembangan algoritma mungkin berada di tangan para insinyur dan ilmuwan data. Namun isu bias algoritma, privasi data, dan dampak sosial otomatisasi tidak dapat diselesaikan dengan rumus matematika semata. Diperlukan etika, analisis kebijakan, dan pemahaman perilaku manusia wilayah yang menjadi kekuatan Sosial Humaniora.

Perubahan iklim juga memberikan ilustrasi serupa. Teknologi energi terbarukan adalah hasil kerja STEM. Namun keberhasilan implementasinya bergantung pada penerimaan masyarakat, kebijakan publik, dan perubahan perilaku sosial. Tanpa pendekatan humanistik, solusi teknis sering kali gagal mencapai dampak maksimal.

Masalahnya bukan pada dominasi STEM, melainkan pada cara kita memaknai kemajuan. Jika kemajuan diukur semata dari pertumbuhan ekonomi dan inovasi teknologi, maka STEM akan selalu terlihat lebih unggul. Namun jika kemajuan diartikan sebagai peningkatan kualitas hidup manusia secara menyeluruh termasuk keadilan sosial, kebebasan berpikir, dan keberlanjutan lingkungan maka Sosial Humaniora memiliki peran yang tak tergantikan.

Kita hidup di era di mana informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan tidak selalu mengikuti. Media sosial memungkinkan penyebaran informasi dalam hitungan detik, namun juga mempercepat polarisasi dan misinformasi. Literasi kritis, kemampuan membaca konteks sejarah, dan empati lintas budaya menjadi semakin penting. Semua ini adalah kompetensi yang diasah dalam pendidikan humaniora.
Di sisi lain, Sosial Humaniora juga tidak boleh menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Dunia berubah dengan cepat, dan pendekatan tradisional yang menolak sains atau teknologi justru akan mempersempit relevansi. Seorang sosiolog yang memahami analisis data besar (big data) akan lebih tajam membaca pola sosial. Seorang sejarawan yang memanfaatkan arsip digital dapat memperluas jangkauan penelitiannya.

Karena itu, masa depan tidak terletak pada supremasi salah satu kutub, melainkan pada integrasi keduanya. Konsep interdisipliner menjadi kunci. Banyak profesi baru lahir dari pertemuan STEM dan Sosial Humaniora: desainer pengalaman pengguna (UX), analis kebijakan berbasis data, konsultan etika teknologi, hingga spesialis komunikasi sains. Mereka membuktikan bahwa batas-batas disiplin semakin cair.

Pendidikan masa depan seharusnya mendorong kolaborasi lintas bidang. Mahasiswa teknik perlu belajar etika dan komunikasi. Mahasiswa humaniora perlu memahami literasi digital dan analisis kuantitatif. Dengan demikian, kita tidak menciptakan generasi yang terjebak dalam silo pengetahuan, melainkan individu yang fleksibel dan adaptif.

Dalam konteks Indonesia, tantangan ini semakin relevan. Negara kita menghadapi persoalan multidimensi: ketimpangan sosial, transformasi digital, urbanisasi, hingga krisis lingkungan. Tidak ada satu disiplin pun yang mampu menjawab semua tantangan tersebut sendirian. Kita membutuhkan insinyur yang memahami konteks lokal dan budaya masyarakat. Kita juga membutuhkan ilmuwan sosial yang mampu merumuskan kebijakan berbasis data dan teknologi.

Lebih jauh lagi, integrasi STEM dan Sosial Humaniora adalah soal membangun peradaban yang seimbang. Teknologi tanpa nilai dapat melahirkan dehumanisasi. Sebaliknya, nilai tanpa inovasi dapat terjebak dalam romantisme masa lalu. Dua kutub ini harus saling menjaga agar kemajuan tidak kehilangan arah dan refleksi tidak kehilangan daya guna.

Pada akhirnya, opini saya sederhana: STEM dan Sosial Humaniora adalah dua kutub yang berbeda, tetapi tidak saling meniadakan. Keduanya seperti dua sisi mata uang yang membentuk satu kesatuan. Dunia modern memerlukan kecerdasan teknis untuk menciptakan solusi, dan kebijaksanaan humanistik untuk memastikan solusi tersebut membawa kebaikan bersama.

Masa depan bukan milik STEM semata, dan bukan pula milik Sosial Humaniora saja. Masa depan adalah milik mereka yang mampu menjembatani keduanya yang memahami logika algoritma sekaligus kompleksitas manusia. Dalam dunia yang semakin terhubung dan kompleks, kemampuan mengintegrasikan rasionalitas ilmiah dengan kepekaan sosial akan menjadi kunci.

Dua kutub ini memang berbeda arah, tetapi justru dalam perbedaan itulah tercipta keseimbangan. Jika kita mampu melihat STEM dan Sosial Humaniora sebagai mitra, bukan rival, maka kita sedang membangun fondasi untuk satu masa depan yang lebih utuh masa depan yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga matang secara moral dan sosial. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *