Opini  

15 Juni 2026 adalah Bayang Bayang Perubahan

Fahmi Bulele
banner 120x600

Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena yang menarik namun penuh tanda tanya. Antusiasme yang meledak di kalangan masyarakat luas, khususnya mahasiswa, bukanlah tanpa sebab. Hal ini merupakan reaksi alami yang terakumulasi akibat tekanan kebijakan, perubahan regulasi yang dinilai merugikan, hingga ketidakstabilan ekonomi yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar. Isu mengenai “reformasi total” atau revolusi kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan telah bergema keras di seluruh lini media, baik internasional maupun lokal.

Tanggal 15 Juni 2026 seolah menjadi penanda bahwa “bom waktu” telah meledak. Berbagai elemen, mulai dari lembaga intra kampus, organisasi ekstra kampus, hingga elemen masyarakat sipil, turun ke jalan. Mereka menggaungkan pesan bahwa Pemilu adalah satu-satunya jalan untuk membuka mata publik terhadap praktik KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme). Momentum ini mengingatkan kita pada sejarah kelam namun heroik bangsa, seperti peristiwa Malari dan Reformasi 1998, di mana rakyat bersatu menuntut perubahan.

Namun, di balik gemuruh tersebut, muncul pertanyaan besar yang sulit dijawab. Mengapa gairah yang sedemikian besar pasca tanggal 15 itu kini seakan memudar? Di mana semangat “suaraku lebih keras sekalipun dari dalam kubur”? Ada desas-desus yang beredar, menyebutkan adanya pertemuan-pertemuan di balik layar, sebuah “kesepakatan” yang terkesan meminggirkan kebebasan. Sebagaimana ungkapan kritis seorang rekan, “hubungan toxicitas seperti ini masih saja dipelihara”. Kontras dengan kondisi di tingkat nasional yang masih terus bergerak, gerakan di daerah ini terkesan mandek.

Prinsip dasar demokrasi berbunyi: “Bisa Mengkritik, Jangan Menolak untuk Dikritik”. Ketika sebuah gerakan massa tiba-tiba meredup tanpa penyelesaian masalah yang jelas, publik berhak bertanya: apakah ada kepentingan tersembunyi di balik layar? Atau memang gerakan ini hanya bersifat musiman? Hanya pelaku dan Tuhan yang tahu. Pada akhirnya, situasi ini memunculkan kesan pahit: seolah setelah gelap, tidak terbit terang, melainkan justru kembali gelap. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *