Daerah  

Identitas Dua Nelayan Misterius Dibalik Ledakan RIB 04 Basarnas Ternate Terungkap

Udin Rope dan Sudarwin Hasrat alias Darwin.(istimewa)
banner 120x600

TERNATE,iT- Identitas dua nelayan yang menjadi misterius usai peristiwa nahas dialami speedboat RIB 04 milik Basarnas Ternate yang diduga meledak di perairan Gita, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan dalam misi penyelamatan akhirnya terungkap.

Kurang lebih lima hari, semua pemberitaan terkait dua orang disebut nelayan, bernama Udin Rope warga Kelurahan Mangga Dua dan Aipda Sudarwin Hasrat alias Darwin yang merupakan anggota Polairud Polda Maluku Utara itu bukan berprofesi sebagai nelayan.

Sebelumnya, Basarnas Ternate mengaku, Udin dan Darwin adalah nelayan yang mencari ikan di Kayoa, Halmahera Selatan dan mengalami mati mesin di perairan Desa Gita, Kecamatan Oba, Tidore Kepulauan pada Minggu (2/2) sekitar pukul 19.30 WIT.

Namun, pernyataan itu ditepis oleh Sudarwin yang menyebut bahwa mereka bukan melaut sebagai nelayan melainkan sedang menjalankan tugas SAR, untuk membantu kapal penampung ikan miliknya yang hanyut di perairan Pulau Makian, tepatnya di depan Desa Samsuma, pada Jumat (31/1) lalu.

Dalam misi penyelamatan Udin dan Sudarwin, Basarnas mendapatkan informasi ada 11 personel yang terdiri dari anggota Basarnas, Polairud dan satu jurnalis Metro TV Sahril Helmi.

Setelah mendapat laporan melalui Corm Basarnas , malam itu juga tim langsung bertolak ke titik lokasi sekitar pukul 20.31 WIT. Tim SAR gabungan bertolak dari pelabuhan Ahmad Yani Ternate, dengan speedboat RIB 04.

Alasan Basarnas melakukan operasi pada malam hari lantaran sudah mengetahui titik lokasi dua orang tersebut, sehingga segera memberi pertolongan. Dengan begitu, Basarnas mengklaim operasi yang dilakukan sudah sesuai SOP.

Menurut, Kasi Ops Basarnas Ternate, Syahran, saat itu cuaca baik-baik saja sehingga mereka melakukan pertolongan terhadap Udin dan Darwin.

Naasnya, sekitar 10 menit lagi sampai di titik lokasi, speedboat RIB 04 meledak. Dalam peristiwa itu, tiga orang meninggal dunia, tujuh luka berat dan satu jurnalis Sahril Helmi belum ditemukan hingga saat ini.

Sudarwin kepada sejumlah awal media, menjelaskan, saat itu bersama Udin bukan sedang melaut sebagai nelayan, melainkan menjalankan tugas SAR untuk membantu kapal penampung ikan miliknya yang hanyut di perairan Pulau Makian pada Jumat (31/1) lalu.

“Saya berangkat dari Ternate ke Pulau Makian sekitar pukul 16.00 WIT dan tiba malam hari, namun kapal tidak bisa segera digunakan karena alatnya rusak. Jadi, kami menarik kapal ke Pulau Kayoa, tepatnya di Desa Bajo,” ungkap Sudarwin dalam konferensi pers di kantor Dit-Polairud Polda Maluku Utara, Jumat (7/2) tadi.

Setelah kapal diperbaiki,kata dia, langsung berangkat dari Kayoa menuju Ternate pada Minggu, 2 Febuari 2025 pukul 11.00 WIT. Namun, dalam perjalanan, mereka mendapat kabar bahwa ada kapal lain yang mengalami kerusakan di perairan Bacan dan membutuhkan mekanik.

“Kami berinisiatif menurunkan mekanik di Desa Gita agar bisa melanjutkan perjalanan ke Halmahera Selatan lewat darat, mengingat cuaca yang tidak mendukung,”ucapnya.

Sambungnya, sekitar pukul 16.00 WIT, kapal kembali bertolak dari Desa Gita menuju Ternate. Namun, dua jam kemudian saat mendekati Pulau Moti, cuaca semakin memburuk dan mesin kapal tiba-tiba mati.

“Karena kondisi cuaca buruk, saya menghubungi SAR Polairud, yakni Briptu Ritno, tapi tidak ada respons. Lalu saya menghubungi Bripka Irwan, yang akhirnya bisa merespons. Tidak lama kemudian, Basarnas Ternate juga mengonfirmasi dan meminta lokasi kami,”cetusnya..

Kata dia, Irwan kembali menelepon sekitar pukul 23.00 WIT, dan meminta mereka memberi sinyal cahaya menggunakan senter.

“Kami memberikan kode cahaya dan sempat melihat cahaya dari kejauhan, namun lima menit kemudian saya kehilangan kabar,”ujarnya.

“Tiba-tiba, Irwan menelepon lagi dan mengatakan bahwa mereka tidak bisa menolong karena mengalami musibah. Tapi kami tidak mendengar adanya ledakan,”sambungnya.

Menurut Sudirman, karena tidak ada bantuan meminta rekannya, Udin segera memperbaiki mesin kapal yang rusak. Akhirnya, sekitar pukul 07.00 WIT, mesin kapal kembali berfungsi, dan mereka melanjutkan perjalanan ke Ternate.

“Jadi sudah hari Senin (3/2), pukul 07.00 WIT, mesin kami jadi dan bertolak kembali ke Ternate. Tapi dalam perjalan mesin kami mati lagi, sehingga diperbaiki hingga pukul 11.00 WIT. Dari situ kami langsung lanjutkan perjalanan ke Ternate dan tiba pukul 16.00 WIT,”tandasnya.

Sebelumnya, dalam insiden meledaknya RIB 04 pada Minggu, 2 Februari 2025, sedikitnya 11 orang menjadi korban, tujuh orang selamat, tiga orang meninggal dunia dan satu hilang, yakni jurnalis/kontributor Metro TV, Sahril Helmi.(red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *