Pertanyaan yang muncul segera ketika saya (dan siapa saja?) mendengar, membaca, dan mengikuti jejak Graal adalah apa hubungannya “korupsi politik”, “jual beli suara”, dan “politik identitas” dengan munculnya “politik gagasan” ala Graal? Bagaimana Ia mendudukkan keduanya – politik gagasan dan “tiga jenis masalah” demokrasi menurutnya–secara berlawanan? Gagasan semacam apa yang bekerja memandu politik Graal? Tulisan ini hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan memposisikan kembali gagasan politik emansipatoris ditengah hutan hujan tropis humanisme pseudo. Dengan menggenggam tesis Alain Badiou, bahwa “kriteria penentu politik ditentukan dari dalam praksis politik itu sendiri” (Badiou 2006: 20), maka tulisan ini mengambil tempatnya tepat di ‘jantung’ gerak politik riil.
Dua Kedudukan Yang Berlawan?
Awal tahun 2023, tepatnya 24 Februari, muncul artikel Graal di media Kompas dengan tema: “Sambut 2024 Dengan Politik Gagasan”. Merasa tak cukup dimuat Kompas, empat hari setelahnya, muncul tulisan dengan tema yang sama – tak mengubah apapun dari materi tulisan – di media kanalgraal.com (media ini memuat tulisan dalam bentuk artikel, opini, dan berita seputar aktivitas Graal). Doktor Ilmu Politik, lulusan Universitas Indonesia (UI) ini, mengemukakan pandangannya terkait masalah-masalah demokrasi. Ia meminjam istilah dari salah satu cabang ilmu kedokteran, yaitu patologi atau ilmu yang mempelajari penyakit. Dengan mengarahkan mata pena-Nya pada perubahan tingkat molekuler dari penyakit demokrasi, ia memperlihatkan kerusakan/gangguan di tingkat seluler. Baginya, asal usul penyakit ini mewabah di tingkatan “elit” dan “masyarakat”. Artinya, Graal sedang menegakkan diagnosis pada struktur anatomi jaringan/sel yang terinfeksi. Hasil dari diagnosa Graal, memperlihatkan 3 jenis penyakit: (1) korupsi politik; (2) jual beli suara; dan (3) politik identitas.
Seperti semua dokter, setelah melakukan diagnosis pada penyakit seseorang, Graal membuat resep pada fakultas Farmasi. Ia menggabungkan senyawa kimia menjadi obat. Senyawa kimia itu terdiri dari pertukaran gagasan/ide antara elit dengan masyarakat. Setelah digabungkan gagasan/ide dari elit dan masyarakat, muncullah obat yang ia sebut Politik Gagasan. Graal memandang senyawa kimia adalah pertukaran gagasan/ide bukan pertukaran materi (materi yang Ia maksud adalah uang). Jika senyawa kimia adalah pertukaran materi, maka melalui ilmu farmakologi, Graal berpandangan bahwa masyarakat hanya menjadi objek dari subjek politik elit. Dampaknya, “masyrakat ibarat sapi yang hidungnya dicocoki, lalu disuruh kesana kemari”. Di sisi yang lain, konsisten dengan cara pandangnya terkait senyawa kimia, Graal memandang masyarakat juga bagian dari sel yang menyebabkan penyakit demokrasi. Karenanya, “momen politik diubah menjadi kesempatan ekonomi”. Di titik inilah, Graal optimis bahwa, gabungan senyawa kimia yang baik, akan menghasilkan obat yang mujarab. Dan obat yang mujarab, akan menghasilkan tubuh yang bergizi, kebijakan yang sehat dan masyarakat yang sejahtera.
Namun, Graal bukanlah dokter bedah. Ia adalah doktor ilmu politik yang mencoba mendiagnosis penyakit demokrasi menggunakan istilah-istilah ilmu kedokteran, itupun hanya pada cabang ilmu tertentu: patologi anatomi. Sebenarnya, Graal hanya mengikuti “tradisi” penggunaan metafora “penyakit” yang dikembangkan oleh Carl Schmitt dalam konteks ilmu politik. Dalam karya monumentalnya, The Concept of the Political, Schmitt menggunakan metafora penyakit untuk mengandaikan kondisi-kondisi yang tidak normal dalam politik. Apa yang hendak Schmitt tunjukan adalah dinamika kekuasaan, konflik, dan kondisi yang dapat merusak tatanan politik yang stabil (Schmitt 1995 [1932]: 19). Tradisi penggunaan istilah patologi juga dipakai dalam ilmu politik kontemporer untuk menggambarkan korupsi, otoritarianisme, dan penyelewengan (Lihat Habermas (1962; 1973); Linz (1978); Havel (1978; 1990); Fukuyama (1992; 2014); Brzezinski (1997; 2007)). Pada tradisi yang disebutkan terakhir inilah, Graal mengambil posisinya untuk membedah Provinsi Maluku Utara (Malut).
Graal seakan membuktikan bahwa patologi demokrasi juga berlangsung dan bekerja di Provinsi Malut. Seperti pepatah latin yang muncul pada tahun 1855 oleh seorang ahli patologi, Rudolf Virchow: aphorism omnis cellula e cellula (semua sel berasal dari sel sebelumnya), Graal meyakini bahwa kerusakan sel dapat di sembuhkan. Untuk itu, Ia tak hanya menulis artikel, tapi melanggeng untuk mendaftarkan diri pada tanggal 12 Mei 2023 (hanya menjelang 3 bulan dari munculnya artikel politik gagasan) di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Malut. Konsistensi cara pikir Graal mesti diapresiasi, Ia mendudukkan masalah korupsi, akses kesehatan, akses pendidikan, infrastruktur, singkatnya, ketimpangan dan kemiskinan, berasal dari sel sebelumnya: politik transaksional dan absennya politik gagasan. Sampai tulisan ini dibuat, Senator dari Malut ini, masih konsisten dengan politik gagasan, terlihat ketika Ia menyampaikan ajakan pada tanggal 4 April 2025 untuk masyarakat Taliabu dalam Pemilihan Suara Ulang (PSU) supaya menghindari patologi demokrasi. Tapi apakah benar kerusakan/gangguan di tingkat seluler berasal dari sel yang didagnosis oleh Graal?
Masalah dalam Kedudukan Masalah
Dalam ilmu genetika dasar, sebagai salah satu cabang Ilmu Biologi, kita akan menjumpai bahwa genetik memainkan peran penting dalam kerusakan/gangguan sel (Lihat Frampton & Garret (2005); Bertoli & Skotheim (2013); Shen & Mills (2018)). Dalam salah satu naskah artikel yang ditulis oleh “bapak genetika”, George Mendel pada tahun 1866, alel atau ekpresi alternatif dari gen mempunyai hubungan di dalam setiap invidu disomik yang berkaitan dengan suatu sifat yang khas: masing-masing berasal dari tetuanya. Status dari pasangan ini, dinamakan Genotipe (Rahmadina 2019). Artinya genetik sebagai masalah dasar dalam munculnya sepasang alel yang rusak/gangguan. Dengan kata lain, saya hendak mengandaikan itu pada masalah kedudukan yang dibuat oleh Graal. Kedudukan yang dibuat Graal berada pada alel, bukan pada genetik. Bahwa, baik politik transaksional dan maupun politik gagasan, kedua-duanya merupakan sepasang alel yang hidup dalam satu genetik yang sama, yaitu Kapitalisme Neoliberal.
Pengandaian selanjutnya adalah bahwa politik transaksional dan politik gagasan yang dimaksud Graal bukan terletak pada nilai-nilai moral, dan karenanya ia harus dibaca sebagai genetika kapitalisme. Tingkat pertama dari pemetaan dengan latar belakang dua alel tersebut berada pada kontradiksi internal dari sirkulasi dan akumulasi modal saat nilai uang mengalir mencari keuntungan melalui berbagai momen: produksi, realisasi (konsumsi), distribusi, dan investasi uang. Ini adalah model ekonomi kapitalis sebagai spiral ekspansi dan pertumbuhan tanpa akhir (Harvey 2020). Pada tingkat kedua, terletak pada reproduksi sosial yang lebih luas dan segala macam formasi sosial budaya, ilmiah (berbasis pengetahuan), agama dan kontingensi yang biasanya diciptakan oleh populasi manusia dalam ruang dan waktu. Model terakhir ini menggabungkan ekpresi aktif dari keinginan, kebutuhan dan hasrat manusia, nafsu akan pengetahuan dan makna serta pencarian yang terus berkembang dengan pemenuhan latar belakang pengaturan kelembagaan yang berubah. Pada model terakhir inilah, apa yang dimaksud Graal tentang transaksi ide/gagasan mengambil posisinya: memperkuat kelembagaan kapitalisme dari bawah.
Meskipun Graal mencoba untuk membedakan politik gagasan dari politik transaksional dengan mengklaim bahwa keduanya adalah hal yang terpisah, kenyataannya genotipe selalu berada dalam satu genetik. Dalam hal ini, kedua model politik tersebut berfungsi sebagai bagian dari logika yang lebih luas dalam reproduksi sosial dan ekonomi yang tidak pernah berhenti. Bahkan, ketika politik gagasan mencoba menegaskan diri sebagai alternatif terhadap politik transaksional yang lebih korup, ia tetap beroperasi dalam cara kerja kapitalisme. Politik gagasan yang dipromosikan oleh Graal, meskipun tampak progresif(?), pada kenyataannya hanya memapankan struktur yang sudah ada, memperkuat institusi yang memediasi aliran modal dan kuasa di dalam masyarakat. Pada tingkat paling fundamental, ideologi yang ada dalam politik gagasan tidak dapat sepenuhnya terlepas dari logika akumulasi kapital. Dengan kata lain, “safari politik” dan “penajaman agenda kerja” untuk “kemajuan” dan “pemberdayaan” melalui pertukaran ide/gagasan, tetap saja ia tidak dapat keluar dari pengaruh kekuatan ekonomi kapitalisme yang mendasari sistem politik neoliberal bekerja di lapangan.
Dalam sistem kapitalisme neoliberal, gagasan-gagasan politik seringkali muncul dengan slogan-slogan “kemajuan” sebagai mekanisme untuk memapankan dominasi dan memperlancar sirkulasi modal. Bahkan ketika politik gagasan mengusung tema-tema kemajuan sosial dan demokrasi, ia tidak bisa lepas dari faktanya bahwa bentuk-bentuk kebijakan yang muncul darinya mengarah pada memperkokoh ketimpangan sosial dan kemiskinan sistemik (untuk bagian ini saya akan membahasnya di tempat lain dengan mendedah gagasan Graal tentang hilirisasi pertanian dan perkebunan di Malut). Di titik inilah scholar activis atau intelektual terdidik perkotaan Malut harus menilai kembali apakah gagasan-gagasan yang Graal perjuangkan (baik itu muncul dari dalam, maupun dari pertukaran ide/gagasan) sungguh-sungguh menawarkan “solusi” atau justru memperbaharui masalah lama dalam bentuk yang baru.
Jalan Keluar: Gagasan Politik Emansipatoris
Kapitalisme merupakan genetika yang menyebabkan semua kerusakan pada struktur jaringan/sel: alam dan manusia. Berbagai temuan dari ilmuwan, akademisi, NGO, dan peneliti, serta kerja-kerja pelaku gerakan sosial di lapangan, menyajikan teori dan data-data valid mengenai perampasan lahan, kerusakan metabolisme alam dan sosial (lihat Suhendar & Kasim (1996); Zoomers (2010); Borras, Saturnino, & Franco (2011; 2012); White (2012); Magdoff (2013); Sassen (2013); Bachriadi & Suryana (2016); Safitri (2017)) semuanya berakar pada akumulasi kapital tiada henti. Dengan kata lain, akumulasi kapital mensyaratkan privatisasi dan komodifikasi pada semua hal yang ada di dunia ini – selama sesuatu tersebut dapat dikonversi menjadi surplus. Di titik inilah, gagasan politik emansipatoris mesti diposisikan sebagai jalan keluar dari lingkaran setan semacam itu.
Di awal tulisan ini, saya menggunakan tesis Alain Badiou untuk mengemukakan bahwa tulisan ini mengambil jarak dengan politik gagasan Graal sebagai perangkat kapitalisme yang itu-itu saja dengan gerak politik riil. Dalam Being and Event (1988), Badiou memfokuskan kajiaannya pada hubungan antara being (yang ada) dan event (peristiwa) melalui pendekatan matematis, ontologis, dan politik, serta berusaha untuk menghubungkan apa yang ada dengan perubahan radikal yang bisa muncul dalam dunia ini. Konsep event lebih difokuskan di dalam tulisan ini. Konsep event dipakai untuk melihat (:membaca) suatu peristiwa radikal yang memecah tatanan yang ada dan membawa perubahan yang fundamental dalam pemahaman kita terhadap dunia. Peristiwa tidak dapat diprediksi atau direduksi ke dalam struktur yang sudah ada. Dalam konteks politik, event adalah revolusi atau perubahan radikal yang mengubah struktur kekuasaan atau distribusi kekayaan yang sudah ada. Bagi Badiou, peristiwa-peristiwa politik ini – seperti revolusi Perancis atau Rusia–bukan sekadar perubahan yang terjadi di atas permukaan, tetapi perubahan yang merombak total struktur sosial dan politik yang ada.
Reformasi adalah salah satu peristiwa politik yang saya andaikan: di mana perubahan rezim ke rezim lainnya, tidak mengubah apapun terkait dengan ketimpangan dan kemiskinan. Reformasi justru mengaburkan masalah-masalah sosial-politik-ekonomi-kebudayaan melalui mewabahnya fitisisme dalam kebebasan berekspresi, perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM), dan kemudian keduanya melikuidasi program-program emansipasi dengan dalih totaliter; komunis; dan pelanggar HAM. Ini merupakan gagasan yang berkembang di zaman Pasca-Modernisme yang sebenarnya terjebak dalam hutan hujan tropis humanisme pseudo (Lihat Suryajaya 2014). Dampaknya tidak main-main. Dapat dilihat sejak Revisi Undang-Undang (RUU) Tentara Negara Indonesia (TNI) dan Revisi Undang-Undang (RUU) Polisi Republik Indonesia (POLRI) menjadi momen munculnya protes-protes sosial akhir-akhir ini. Gerakan sosial mengkonstitusikan peristiwa-peristiwa politik tersebut dengan kebebasan ekspresi dan “ancaman” terhadap HAM. Akibatnya, kebebasan dan militerisme dipahami sebagai sesuatu yang terpisah dari genetika-Nya: Formasi sosial.
Rujukan
Bachriadi, Dianto dan Erwin Suryana (2016). “Land Grabbing and Speculation for Energy Business: A Case Study of ExxonMobil in East Java, Indonesia”, Canadian Juornal of Development Studies 37(4): 578-594.
Borras Jr, Saturnino M. dan Jennifer C. Franco (2011). Political Dynamics of Land-grabbing in Southeast Asia: Understanding Europe’s Role. Amsterdam: Transnational Institute.
———- (2012). “Global Land Grabbing and Trajectories of Agrarian Change: A Preliminary Analysis”, Journal of Agrarian Change 12(1): 34-59.
Magdoff, Fred (2013). “Twenty-First-Century Land Grabs: Accumulation by Agricultural Disspossession”, Monthly Review 65(6), diakses di https://monthlyreview.org/2013/11/01/twenty-first-century-land-grabs/ pada tanggal 8 April 2025.
Safitri, Hilma (2017). Pencaplokan Lahan Masyarakat untuk ‘pabrik listrik’: Studi Kasus Skema PPP di Proyek PLTU Batang, ARC Working Paper No.13/WP-KAPOB/I/2017. Bandung: Agrarian Resource Center.
Suhendar, Endang dan Ifdhal Kasim (1996). Tanah Sebagai Komoditas: Kajian Kritis atas Kebijakan Pertanahan Orde Baru. Jakarta: ELSAM.
Sassen, Saskia (2013). “Land Grabs Today: Feeding the Diaseembling of National Territory”, Globalization 10(1): 25-46.
Taliawo, Graal (2023). “Sambut 2024 Dengan Politik Gagasan”, Kompas.com, 24 Februari 2023, diakses di https://nasional.kompas.com/read/2023/02/24/11183731/sambut-2024-dengan-politik-gagasan?page=all pada tanggal 8 April 2025.
White, Ben et al. (2012). “The New Enclosures: Critical Perspectives on Corporate Land Deals”, Journal of Peasant Studies 39(3-4): 619-647.
Zoomers, Annelies (2010). “Globalisation and Foreignisation of Space: Seven Processes Driving the Current Global Land Grabs”, Journal of Peasant Studies 37(2): 429-447.(*)
















