MOROTAI, iT- Dua nelayan asal Sulawesi Utara (Sulut) dilaporkan hanyut bersama rumpon ke perairan Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara (Malut) yang diterima Basarnas Ternate dari kru kapal asing berbendera Bahama pertama kali menerima panggilan darurat dari kedua nelayan menggunakan Radio.
Kedua korban itu berinsial YB alias Yanto Bawole (50 tahun) dan MA alias Meytro Abas (26 tahun) asal Sulawesi Utara.
Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani melalui, Kasubsie Operasi dan Siaga, Ferdinando Jofandri menjelaskan, kronologi kejadian pada 07 Juli 2026 kapal LNG JUROJIN menerima panggilan mayday dari sebuah rumah nelayan (rumpon) kapal LNG JUROJIN telah berputar-putar di sekitar rumah nelayan tersebut dan terus mengawasinya.
“Namun LNG JUROJIN tidak dapat menyelamatkannya karena cuaca yang sangat buruk. Selanjutnya melaporkan kepada Basarnas untuk bantuan evakuasi,” jelasnya, Sabtu (11/7).
Kata dia, menindaklanjuti hal tersebut Kansar Ternate melakukan koordinasi dengan instansi terkait guna melaksanakan proses evakuasi terhadap korban. Lanjutnya, dengan menggunakan kapal KAL Wayabula Lanal Morotai serta RIB 03 Tobelo tim SAR kemudian keluar melaksanakan proses pencarian.
“Namun karena kondisi cuaca dan gelombang tinggi hingga mencapai 2 sampai 3 meter, sehingga proses pencarian pun dihentikan dengan mempertimbangkan faktor cuaca yang tidak memungkinkan,” tuturnya.
Ia menyatakan, kemudian pada 10 Juli 2026 pukul 06.43 WIT, Basarnas merima email dari kapal kargo Stenia Colossus berbendera Singapura bahwa korban telah berhasil di selamatkan ke kapal tersebut. Sehingga diminta mengintersep korban ke tim SAR Gabungan.
Menurutnya, proses intercept korban kemudian disepakati yaitu di perairan Selatan Pulau Morotai pada pukuL 13.00 WIT namun di undurkan menjadi pukul 14.30 WIT. Di karenakan kapal MV Stenia Colossus menghadapi cuaca buruk (angin beufort skala 6 dari arah Barat Daya/SSW) serta kondisi gelombang setinggi 3 meter. Namu dikarenakan kondisi cuaca yang sangat tidak memungkinkan dan jarak posisi intercept terlalu jauh dari Pulau Morotai.
“Tim SAR Gabungan kemudian berkoordinasi dengan kapal Mv Stenia Colossus untuk pemindahan posisi intercept korban yaitu di perairan Pulau Rao,” ucapnya.
Ia mengaku, setelah disepakati lokasi intercept yang paling aman berada di Pulau Rao. Pukul 18.00 WIT tim Rescue USS Morotai bersama tim Rescue Pos SAR Tobelo dan potensi SAR dengan menggunakan RIB 03 Tobelo bergerak menuju lokasi intercept yang telah disepakati untuk melaksanakan proses penjemputan.
Pukul 19.32 WIT, tim SAR Gabungan tiba di lokasi intercept selanjutnya proses evakuasi terhadap korban ke RIB 03 Tobelo. Kedua nelayan tersebut akhirnya berhasil di evakuasi ke RIB 03 Tobelo dari Kapal Mv. Stania Colossus.
“Selanjutnya di bawa ke pelabuhan Daruba Morotai dalam kondisi selamat, lalu korban di serahkan ke pihak medis untuk mendapat penanganan lebih lanjut,” urainya.
Dia menambahkan, dengan telah di evakuasinya korban dalam keadaan selamat maka operasi SAR selesai. Seluruh unsur yang terlibat dikembalikan ke kesatuan masing-masing disertai ucapan terima.(red).
















