Malut United-Benfica Kolaborasi Kembangkan Potensi Sepak Bola Anak Usia Dini

Jumpa pers Manajemen Malut United bersama perwakilan SL Benfica di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate.(Dok. IT).
banner 120x600

TERNATE, iT- Manajemen Malut United resmi menjalani kerja sama dengan tim sepak bola SL Benfica dari Negara Portugal dengan akademik Merah Putih untuk pengembangan anak-anak usia dini dari dengan prioritas yatim piatu dan kurang mampu agar dapat berkarir di sepak bola mulai skala Nasional hingga internasional.

Manajemen Malut United juga diketahui terus mempertahankan fokus dalam aksi sosial di bidang olahraga sepak bola Maluku Utara. Manajemen, tak hanya fokus pada tim senior yang saat ini berkompetisi di BRI Super League tapi fokus mengembangkan dan melahirkan anak-anak usia dini untuk dapat berkarir.n


Pengembangan sepak bola usia dini difokuskan pada anak yatim piatu hingga anak yang memiliki latar belakang yang kurang mampu di tiga Provinsi di wilayaj Indonesia Timur. Diantaranya, Provinsi Maluku Utara, Maluku dan Papua. Dengan niat dan fokus untuk jangka panjang, Malut United kolaborasi (kerja sama) dengan S.L Benfica dari sisi kepelatihan yang memadukan pendidikan olahraga hingga pembentukan karakter pada anak usia dini.

Direktur PT Malut Sejahtera, Dirk Soplanit menjelaskan, gagasan Owner Malut United, ini selain memberi hiburan bagi masyarakat Maluku Utara juga mengangkat martabat anak-anak yatim piatu dan anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui sepak bola. Menurutnya, akademik Merah Putih dirancang sebagai proyek jangka panjang untuk mencetak pemain profesional sekaligus membangun generasi muda yang memiliki disiplin, akhlak dan semangat kebhinekaan.

“Akademi akan mulai merekrut anak usia 7 hingga 9 tahun dengan kuota awal sebanyak 70 orang setiap tahun. Dari jumlah itu, sebanyak 45 anak beragama Islam dan 25 anak beragama nasrani yang akan dibina secara terpusat dalam sistem pendidikan dan pelatihan terpadu,” ujarnya dalam agenda jumpa pers bersama perwakilan akademi sepak bola internasional asal Portugal, S.L. Benfica pada, Jumat, (15/5).

Kata dia, konsep akademi ini tidak hanya fokus pada kemampuan teknik sepak bola, tetapi juga pembentukan karakter dan moral peserta didik hingga pembinaan moral dan keagamaan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di wilayah Maluku Utara, Maluku dan Papua. Anak-anak Muslim nantinya akan mendapatkan pendidikan berbasis pesantren dengan penguatan akhlak, pembelajaran Al-Qur’an serta pendidikan keimanan. Sedangkan, peserta Nasrani juga akan dibina untuk menjalankan nilai-nilai agama dan moral yang baik sebagai fondasi dalam membangun karier sepak bola profesional.

“Mereka digodok menjadi pemain handal sekaligus memiliki moral dan disiplin yang baik. Jadi bukan hanya menjadi pemain sepak bola, tetapi juga manusia yang berakhlak,” ucapnya.

Ia mengaku, untuk program pendidikan akan melibatkan kerja sama dengan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Maluku Utara dan Dinas Pendidikan setempat. Seluruh peserta akademi tetap mendapatkan pendidikan formal sehingga mata pelajaran mereka dapat diterbitkan melalui rapor dari sekolah asal masing-masing. Selain pendidikan umum dan pembinaan agama, lanjutnya, akademi juga akan memberikan pelajaran bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab.

“Manajemen menyiapkan tenaga pengajar dari Pulau Jawa yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan pesantren dan pembinaan pendidikan karakter,” jelasnya.

Kata Dirk, pembentukan akademi ini merupakan kerja sama perdana yang akan terus dievaluasi sesuai perkembangan dan harapan Owner klub. Ia juga menegaskan, tujuan utama program bukan semata-mata menjadikan seluruh peserta bergabung dengan Malut United, tetapi memberi kesempatan bagi anak-anak untuk meningkatkan taraf hidup keluarga melalui sepak bola profesional.

“Tidak selamanya mereka harus gabung ke Malut United. Yang paling penting adalah bagaimana mereka bisa sukses dan mengangkat derajat keluarganya,” tuturnya.

Ia menjelaskan, dalam proses perekrutan pemain, pihak manajemen akan bekerja sama dengan Asosiasi Provinsi PSSI Maluku Utara agar seleksi berjalan objektif dan tepat sasaran. Direktur PT Malut Sejahtera menekankan, akademi ini diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu sehingga proses seleksi harus terbebas dari praktik manipulatif.

Menurutnya, khusus untuk Papua, manajemen bersama perwakilan Benfica akan melakukan pencarian bakat secara langsung ke daerah-daerah untuk menemukan bibit potensial. Para pemain yang terpilih nantinya akan dipusatkan dalam training camp Malut United untuk menjalani pembinaan intensif.

“Karena akademi ini fokus pada anak yatim piatu dan kurang mampu, maka seleksi ini dilakukan secara ketat sehingga apa yang diharapkan bersama dapat berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Dirk.

Ia menyampaikan, alasan menggunakan Merah Putih pada akademi yang baru dibentuk agar tidak ada sekatan antara satu dengan yang lain.
“Merah putih ada bendera Indonesia, dan ini sesuai dengan harapan Owner agar tidak ada sekatan antara anak-anak muslim maupun nasrani ketika menjalani pemusatan latihan. Karena mereka tetap berbaur satu dengan yang lain, tanpa ada sekatan apapun,” katanya.

Sementara, Benfica International Business Manager, Lourenco Figueiredo menyatakan, Benfica akan membawa filosofi permainan sepak bola khas Portugal ke Maluku Utara melalui kerja sama tersebut.

“Benfica memiliki pengalaman panjang dalam membangun akademi sepak bola berkualitas yang melahirkan banyak pemain profesional dunia,” ucapnya.

Kata dia, Benfica saat ini dikenal sebagai salah satu klub dengan reputasi akademi terbaik di dunia, sehingga kerja sama dengan Malut United diharapkan mampu melahirkan pemain-pemain potensial dari Indonesia Timur.

“Benfica akan membawa filosofi bermain sepak bola untuk membantu Malut United menjadi tim terbaik sekaligus melahirkan pemain handal dan potensial,” harapnya.

Terpisah, Benfica International Technical Coordinator, Davide Manuel menjelaskan, Benfica juga memiliki misi sosial dalam pengembangan sepak bola, karena di Portugal program pembinaan anak melalui olahraga telah menjadi bagian penting dalam pembangunan generasi muda.

“Program ini dirancang sebagai pembinaan jangka panjang dengan target lima hingga sepuluh tahun ke depan dapat melahirkan pemain-pemain terbaik dari kawasan Timur Indonesia yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” tuturnya.

Ia menambahkan, dengan konsep pembinaan terpadu berbasis olahraga, pendidikan dan moral, Akademi Merah Putih diharapkan menjadi salah satu proyek pengembangan sepak bola terbesar di Indonesia Timur sekaligus membuka jalan bagi anak-anak berbakat dari keluarga sederhana untuk meraih masa depan yang lebih baik melalui sepak bola. (red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *