Opini  

Seorang Perokok

Sudarmane M. N. Tinamba (Istimewa/iT)
banner 120x600

Dia sedang melangkah keluar dari pintu teras rumah tanpa sekata pun, padahal tadi kami sarapan pagi di meja dapur, berbicara kebun kelapa dan pala yang belum saatnya masa panen. Dia tampak merasa tak tenang. Dari raut wajahnya ada masalah apa sebegitu dia alami.

“Mau ke mana, Abdul?”
“Rumahnya Chang,” seorang pengusaha pembeli hasil tani keturunan Tionghoa.
“Perlu apa?”
“Gadai kebun kita!” kata lelaki itu. “Tadi malam anak kita telepon butuh biaya wisuda.”
“Apa kamu gila,” ucapku dengan nada sedikit emosi sembari menyuruh, “tidak. Kau duduk di sini.”


Ketika sebelum bicara lanjut, aku masuk ke dalam mengambil secangkir kopi miliknya dan meletakan di atas meja teras. Sekembali, tampak dia merogoh sebatang rokok surya dan mulai menyalakan dengan korek api lalu menyeruput kopi dingin yang kubuat dini pagi.

“Berapa harga rokok itu per bungkus?” ujarku. “Kau tak pikir panjang setiap hari harus membeli sebungkus rokok?”

Aku memandang dia duduk di seberang ujung meja dengan hembus asap putih keluar dari mulutnya, mengepul tak menentu yang baunya menyengat tak sedap. Aku sudah terbiasa mencium asap rokok itu setiap saat berada di sampingnya. Sebungkus rokok tiga puluh lima ribu rupiah menguras kantongnya sehari karena setiap kerja kebun, merokok sudah jadi kebiasaannya. Dulu waktu umur dewasa, sebelum kenal aku, dia sudah mengenal rokok, terangnya. Dia rupanya perokok aktif hingga sekarang demi asap baginya kenikmatan dunia kedua. Apalagi kalau dia usai makan makanan pedas, sebatang rokok itu di hisap senikmat-nikmat mungkin.

“Sehari kamu beli rokok sebungkus 35.000 rupiah!” kataku mengulang. “Setiap uang sisa belanja 35.000 rupiah sehari, aku cicil ke dalam celengan.”

Aku menjelaskan sehari tiga puluh lima ribu rupiah, di kalikan sebulan. Di kalikan setahun. Dan hasilnya selama empat tahun, yang setara masa waktu kuliah anak kami, dia gunakan uang belanja rokok total; lima puluh juta empat ratus ribu rupiah. Begitu juga sama nilainya dengan uang per hari yang aku tabung.

“Kan sudah kubilang, jangan gadai kebun. Hasil tabungan itu untuk biaya kuliah anak kita yang satu-satunya sudah aku pikirkan jauh hari, lebih cukup untuk kita bawa ke dia di kota.”

Mendengar perkataanku, ia diam. Di tangannya memegang sebungkus rokok surya lalu ia meremuk dengan sekuat tenaga dan membuang ke depan. Memberi sampah baru padahal tadi aku sudah bersih-bersih halaman rumah.

“Kenapa buang ke situ?” kataku. “Ada isi sampah karung di samping tangga, dekatmu.”

“Mulai sekarang, aku tidak merokok lagi.”

“Sulit untuk kau lupakan. Kau kecanduan nikotin bertahun-tahun.”

“Tidak. Kali ini aku pasti bisa melupakan.”

Matahari sudah naik beberapa jengkal di belakang rumah. Tampak kampung terlihat sepih pagi hari. Di halaman rumah pagar bambu bercat biru mengelingi, ada beberapa tanaman bunga kana yang daunnya masih menempel sisa-sisa hujan semalam. Tiang bendera berdiri mematung tanpa bendera akan di naikkan bendera setahun sekali pada tanggal tujuh belas Agustus. Juga terdengar suara ayam jantan berkokok di belakang dapur. Dan juga sesekali kami menyapa orang-orang pejalan kaki hendak ke kebun melewati jalan setapak. Sepanjang hari dia berpikir, menunggu tiga bulan lagi panen kelapa dan pala, begitu anak kami sudah butuh uang yang dia andalkan dari pendapatan seorang petani. Tak ada rasa kekhawatiranku sepanjang hari.

Itu terjadi satu bulan lalu. Hari-hari seperti biasa, dia yang katanya tidak merokok lagi, aku lihat mulai tak tenang serupa cacing tanah yang meronta-ronta. Semacam tidak ada gairah hidup baginya. Sulit tidur. Sesekali tangannya gemetar. Juga badannya terlihat kaku. Bahkan ada orang menyarankan ke dia usai makan coba cicipi permen sebagai obat pengganti rokok tapi tak mapan. Suatu saat ketika dia sedang jatuh sakit, aku bawakan dia ke dokter Puskesmas seberang kampung.

“Sakit apa, Dok?” tanyaku.

“Suami ibu baik-baik saja.”

Rasa khawatirku pun jeda. Dokter itu berkata tidak ada penyebab penyakit, terdengar sangat aneh.

“Suami ibu perokok?” tanya Dokter berkacamata dan berpakaian putih panjang. Di lehernya menggantung Stetoskop.

“Iya, Dok!” ucapku. “Dia sudah berhenti rokok dalam sebulan ini.”

Dokter itu meninggalkan pesan untuk dia kembali merokok lagi. Aku kaget dengar perkataan begitu—yang pastinya setiap Dokter akan mengatakan hal baik tidak merokok karena kesehatan. Pikirku, setiap hari dia bekerja keras, banyak minum air putih kalau sedang bersih-bersih di kebun, sampai-sampai badan berkeringat basahi bajunya. Sebagaimana rumput-rumput tak berkesempatan tumbuh di bawa pohon kelapa dan pohon pala dari keahliannya menggunakan parang.

Sekembali di rumah, dia mulai merokok. Tampaknya seperti orang kehausan satu hari. Meskipun, senikmat apa yang dia rasa asap rokok itu benar-benar mengembalikan semangat hidupnya sekalipun, dia berkata pada mulanya tak akan merokok lagi. Aku katakan selama dia hidup bisa membeli rokok dengan uang yang dihasilkan dari kerja kebun, tidak mengapa. Lakukanlah. Meski dikatakan, Indonesia surga bagi perokok dan penyumbang besar pendapatan negara lewat cukai. Jadi kusarankan ke dia, sesekali beli rokok yang harganya kisaran dua puluh ribu rupiah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *