Di Halmahera Tengah, tanah tidak lagi berbicara dengan suara daun dan ombak. Ia berbicara dengan dentuman mesin dan dengung listrik dari tungku peleburan. Dari kejauhan, cerobong-cerobong di kawasan industri berdiri seperti menara pengawas. Asapnya tipis, hampir sopan. Seolah-olah ia ingin berkata: ini semua demi kemajuan.
Kata ‘’kemajuan’’ adalah kata yang paling sering diulang, dan karena itu paling jarang dipertanyakan. Saya berjalan di sebuah desa pesisir di Weda. Debu merah menempel pada pagar, pada dedaunan, pada wajah anak-anak yang berlari tanpa mengeluh. Debu itu bukan metafora. Ia nyata dan bisa digenggam. Tapi seperti banyak hal lain disini, ia dianggap harga yang wajar untuk sebuah cita-cita nasional bernama hilirisasi.
Negara berkata kita sedang membangun masa depan baterai dunia. Perusahaan berkata kita sedang membuka lapangan kerja. Angka-angka pertumbuhan dikutip seperti doa: sekian triliun investasi sekian ribu tenaga kerja, sekian persen kontribusi terhadap ekonomi daerah. Angka-angkah itu bersih, rapi, dan tidak berdebu. Yang tidak pernah benar-benar masuk dalam tabel adalah rasa kehilangan.
Di pedalaman Halmahera, komunitas adat O’ Hongan Manyawa hidup dari hutan yang kini menyusut. Mereka tidak berbicara tentang pertumbuhan ekonomi. Mereka berbicara tentang sungai yang berubah warna dan jalur berburu yang terpotong jalan tambang. Mereka tidak menulis siaran pers. Mereka hanya berjalan lebih jauh ke dalam hutan yang makin sempit.
Seorang lelaki mudah di desa dekat kawasan industri pernah berkata kepada saya, ‘’Kalau tidak kerja di tambang, mau kerja apa?’’ Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya ia adalah pengakuan tentang dunia yang telah kehilangan alternatif. Ladang sudah dijual. Laut tidak lagi seramah dulu. Pilihan menyusut menjadi satu: menjadi bagian dari mesin atau tersisih olehnya.
Inilah ironi yang jarang diakui. Industri datang dengan janji membebaskan dari kemiskinan, tetapi sering kali menciptakan ketergantungan baru. Upah bulanan memang memberikan kepastian jangka pendek. Namun kontrak kerja bisa berakhir. Harga nikel bisa turun. Dan ketika itu terjadi, orang-orang yang telah melepaskan tanahnya tak lagi puya tempat kembali.
Bahasa resmi menyebut ini sebagai ‘’transformasi struktural’’. Tetapi tranformasi bagi siapa? Bagi pemilik saham, ia berarti ekspansi. Bagi pejabat, ia berarti statistik yang membanggakan. Bagi warga, ia berarti rumah baru dan sepeda motor baru. Namun bagi yang lain, ia berarti hutan yang tak lagi bisa dimasuki dan laut yang tak lagi bisa dibaca dengan naluri lama.
Dalam banyak pidato, tambang digambarkan sebagai simbol kedaulatan nasional. Kita tidak lagi mengekspor bahan mentah, kita mengolahnya sendiri. Kalimat itu terdengar gagah. Tetapi kedaulatan macam apa yang tidak memberikan ruang bagi warga untuk berkata tidak?
Di sebuah pertemuan desa, saya menyaksikan bagaimana warga mendengarkan paparan tentang rencana perluasan industri. Peta ditunjukan, istilah teknis dilontarkan, janji tanggung jawab sosial perusahaan disebutkan. Ketika sisi tanya jawab dibuka, hanya sedikit yang angka tangan. Bukan karena mereka setuju, melainkan karena mereka tahu keputusan telah dibuat jauh sebelum pertemuan itu dimulai.
Inilah bentuk kekuasaan modern yang paling efektif: ia tidak perluh membungkam secara kasar; cukup dengan membuat perlawanan terasa sia-sia. Kita hidup di zaman ketika kerusakan bisa dijelaskan sebagai ‘’dampak yang dapat dimitigasi’’. Sungai yang keruh disebut ‘’peningkatan sedimentasi’’. Hutan yang hilang disebut ‘’alih fungsi lahan’’. Bahasa menjadi alat untuk menghaluskan kenyataan, dan ketika bahasa telah jinak, nurani pun perlahan ikut jinak.
George Orwell pernah menulis bahwa bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur dan pembunuhan tampak terhormat. Di Halmahera Tengah, tidak ada yang secara terang-terangan menyebut dirinya perusak. Semua berbicara tentang pembangunan berkelanjutan. Tetapi jika keberlanjutan berarti generasi mendatang mewarisi tanah yang telah digali habis, maka kata itu kehilangan maknanya.
Saya tidak menulis ini untuk menolak industri secara romantik. Dunia modern membutuhkan logam, dan kita semua menikmati hasilnya. Telepon genggam di tangan kita, kendaraan listrik yang dipuji sebagai solusi iklim-semua terhubung dengan nikel dari tanah ini. Kita semua, dalam kadar tertentu, adalah bagian dari rantai itu.
Namu justru karena itulah kita wajib jujur. Kejujuran berarti mengakui bahwa setiap ton nikel yang dikirim ke luar negeri membawa cerita tentang desa yang berubah. Kejujuran berarti mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi bisa berjalan berdampingan dengan kemunduruan ekologi. Kejujuran berarti bertanya: apakah pembangunan ini memberi warga kendali lebih besar atas hidupnya, atau justru membuat mereka semakin tergantung pada keputusan yang dibuat di ruang rapat yang jauh?
Di senja hari, dari tepi pantai Weda, saya melihat kapal besar berlayar perlahan. Muatannya mungkin akan menjadi bagian dari baterai yang menggerakkan mobil ramah lingkungan di kota-kota dunia. Di sini, di tempat logam itu diambil, anak-anak masih bermain di pasir yang kini sering bercampur debu.
Mereka tidak tahu tentang pasar global. Mereka hanya tahu bahwa tanah tempat mereka tumbuh sedang berubah dengan cepat. Dan mungkin pertanyaan paling sederhana adalah: jika kemajuan menuntut sebagian orang untuk selalu kalah, apakah itu benar-benar kemajuan?. (*).
















